Jakarta — Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) memperkuat upaya keterjangkauan pangan dengan menggelar pasar murah menjelang Ramadhan. Inisiatif ini ditujukan untuk menahan laju kenaikan harga kebutuhan pokok, memastikan akses pangan bagi masyarakat luas, sekaligus menjaga keseimbangan antara kesejahteraan petani dan daya beli konsumen.
Langkah ini hadir pada momentum krusial. Menjelang Ramadhan, permintaan biasanya meningkat, sementara pasokan kerap tertekan oleh cuaca, distribusi, dan biaya logistik. Pasar murah menjadi bantalan sosial—mencegah gejolak harga berubah menjadi beban keluarga.
Dari Lumbung ke Meja Makan
HKTI menekankan pendekatan rantai pasok pendek: menghubungkan hasil panen langsung ke konsumen dengan harga wajar. Beras, gula, minyak goreng, telur, hingga cabai disalurkan dengan margin yang dikendalikan, sehingga selisih harga bisa ditekan tanpa merugikan petani.
Skema ini tidak hanya menurunkan harga di titik jual, tetapi juga memberi kepastian serapan bagi petani—mengurangi ketergantungan pada tengkulak dan fluktuasi pasar harian.
Keamanan Publik dan Stabilitas Harga
Keterjangkauan pangan berkelindan dengan keamanan publik. Harga yang stabil menurunkan risiko keresahan sosial dan memastikan masyarakat dapat beribadah dengan tenang. HKTI berkoordinasi dengan pemangku kepentingan lokal untuk memastikan distribusi tertib, antrean terkendali, dan kualitas pangan terjaga.
Pasar murah juga menjadi kanal informasi—memberi edukasi tentang harga acuan, musim panen, dan pilihan belanja bijak agar konsumen tidak panik membeli.
Human Interest: Nafkah dan Martabat
Di balik lapak sederhana, ada cerita petani yang panennya terserap adil, dan ibu rumah tangga yang bisa menata anggaran tanpa mengorbankan gizi keluarga. Pasar murah mengembalikan martabat pada dua sisi meja: produsen dan konsumen.
Relawan dan petugas lapangan bekerja senyap—menata logistik, memastikan timbangan akurat, dan membantu lansia—agar manfaat terasa langsung.
Kolaborasi dan Keberlanjutan
HKTI mendorong kolaborasi berkelanjutan dengan pemerintah daerah, BUMN pangan, dan komunitas. Pasar murah tidak dimaksudkan sebagai solusi sesaat, melainkan bagian dari strategi stabilisasi: pemetaan pasokan, penguatan gudang, dan distribusi yang efisien.
Ke depan, pengembangan platform data harga dan jadwal panen diharapkan memperkuat ketepatan intervensi—datang saat dibutuhkan, berhenti saat pasar sudah pulih.
Penutup
Upaya HKTI menghadirkan pasar murah jelang Ramadhan adalah contoh kebijakan yang membumi dan manusiawi: menjaga harga tetap terjangkau, petani tetap terlindungi, dan masyarakat tetap tenang.